Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Juli 2023) .mw-parser-output .hidden-begin{box-sizing:border-box;width:100%;padding:5px;border:none;font-size:95%}.mw-parser-output .hidden-title{font-weight:bold;line-height:1.6;text-align:left}.mw-parser-output .hidden-content{text-align:left}klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan. Lihat versi terjemahan mesin dari artikel bahasa Inggris. Terjemahan mesin Google adalah titik awal yang berguna untuk terjemahan, tapi penerjemah harus merevisi kesalahan yang diperlukan dan meyakinkan bahwa hasil terjemahan tersebut akurat, bukan hanya salin-tempel teks hasil terjemahan mesin ke dalam Wikipedia bahasa Indonesia. Jangan menerjemahkan teks yang berkualitas rendah atau tidak dapat diandalkan. Jika memungkinkan, pastikan kebenaran teks dengan referensi yang diberikan dalam artikel bahasa asing. Setelah menerjemahkan, ((Translated|en|Magi)) harus ditambahkan di halaman pembicaraan untuk memastikan kesesuaian hak cipta. Untuk panduan lebih lanjut, lihat Wikipedia:Terjemahan.

Magi berasal dari kata dalam bahasa latin magicus dari magia dan kata dalam bahasa Yunani mageia yang artinya adalah magis atau gaib.[1] Istilah magi memiliki banyak pengertian yang dapat diartiakan menjadi 3 pengertian.[1] Pertama, magi adalah salah satu bentuk agama primitif.[1] Dalam magi, banyak kejadian yang dihubungkan dengan kekuatan gaib.[1] Kedua, istilah magi juga dapat diartikan sebagai ritus yang bertujuan mempengaruhi orang, binatang, roh, dll.[1] Ketiga, magi primitif dipelajari secara lengkap oleh Levy-Bruhl dan peneliti dari Uni Soviet yang bernama N. Marr.[1] Menurut mereka, dalam magi terkandung suatu bentuk pemikiran spesifik.[1] Dalam bentuk pemikiran itu belum bisa ditarik suatu pembedaan kualitatif antara benda-benda karena itu terjadi pemindahan ciri dari suatu gejala atau hal ke beberapa gejala dan hal lain.[1] Manusia primitif menganggap pemindahan seperti itu sebagai realitas yang tidak berubah di mana tidak ada tempat bagi hal yang adikodrati atau supranatural.[1]

Rujukan

  1. ^ a b c d e f g h i Lorens Bagus (1996). Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia. hlm. 557.